Kecintaan Kepada Da’wah & Jihad

24 Apr

:: I’tibar Dari Sejarah Silam

Janganlah anda menakutkan kami dengan kekuatan tentera Rom yang banyak ini. Dan anda merasakan kami tidak akan mampu mengalahkan mereka. Demi usiaku ditangan-Nya, sesungguhnya bukan itu yang kami takutkan, bukan pula kematian….jika memang itu yang disuratkan terjadi. Pada paksi seperti ini, kami berada diatas dua kebaikan. Kalah atau menang, kami tetap dalam keuntungan. Tidak seorang pun diantara kami kecuali berdoa pada Tuhannya agar ia gugur dijalan ini. Tidak seorang pun dikalangan kami yang berharap untuk kembali lagi kepada keluarga kerana mereka semua sudah kami titipkan dalam peliharaan Tuhan. Kami hanya ingin berjihad dijalan Allah dan meninggikan kalimah-Nya. Adapun bila anda mengatakan bahawa kehidupan kami ini sempit, maka sesungguhnya kami lebih panjang. Dan sekiranya dunia ini milik kami seluruhnya, kami tidak akan mengambilnya melebihi dari apa yang kami perlu lakukan.

Begitulah pernyataan Abu Ubaidah bin AshSharif ketika diugut oleh Mauququs, seorang pemerintah Rom. Sikap yang dimiliki oleh Abu Ubaidah ini merupakan salah satu diantara ribuan sikap para pejuang terdahulu di dalam pelbagai lintasan sejarah yang sangat panjang. Pengorbanan yang besar dan pengutamaan mencintai jihad dan da’wah mendasaari segala yang lain. Begitulah watak para sahabat Rasulullah saw dan mereka yang terus menerus menyahut seruan ini. Mereka tidk pernah melakukan suatu pergerakan selain jihad. Mereka tidak pernah mengenal suatu penyampaian selain da’wah. Dan mereka tidak pernah mengenal suatu tujuan selain tujuan Islam.

Barangkali hakikat ini cukup berat untuk kita nisbahkan dengan gerakkerja dan rentak perjuangan hari ini. Dalam keadaan untuk “memuslimkan” diri selengkapnya dalam sehari pun, terasa cukup terbatas, apalagi untuk meletakkan nada juang itu tinggi melepasi yang lain. Mendirikan masyarakat Islam itu adalah tujuan setiap Mu’min dalam hidupnya dan membawa petunjuk pada mereka yang tergelincir walau pun dengan keupayaan yang terbatas, tetapi….ia tetap suatu wawasan yang mesti dibawa juga.

Tidak aneh jika kita dengarkan di dalam sejarah, bahawa mereka bertolak-tolakkan untuk memastikan kalimah Allah berkumandang di atas muka bumi ini. Tidak aneh juga kepada kita melihat mereka berkorban dengan harga yang mahal demi menjulang kalimah Allah. Tidak pula kita merasa janggal mendengar mujahid-mujahid kerdil yang menongkat kaki mereka untuk memastikan mereka turut berpeluang ke medan jihad….

Faktor semasa banyak memandu kita dalam menilai perjuangan ini di dalam acuan kita sendiri. Amatlah dibimbangi kalau-kalau ia tidak menepati citarasa asal. Sesungguhnya di kiri dan di kanan kita terlalu banyak fitnah yang mengepung kita. Adakalanya kita terkepung dengan kebendaan, kebencian, dan juga fitnah yang berupa kasih sayang. Justeru itulah , kita perlu sama-sama memantapkan tarbiyyah islahiyah yakni suatu pendidikan yang mampu memperbaiki diri dan memiliki rasa keimanan yang teguh. Sesungguhnya tidak ada ujian yang aneh bagi orang Mu’min…bila hatinya mencintai perjuangan Islam, pastinya kepentingan Islam terlebih “aula” darii yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: